Seorang dokter di Surabaya, dr Mahendra Tri Arif Sampurna SpA(K) PhD dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair), menciptakan dua alat inovasi untuk menangani penyakit kuning atau hiperbilirubinemia pada bayi. Kedua alat bernama AirbiliNest dan AirbiliSun ini dirancang khusus untuk menjangkau daerah terpencil di Indonesia yang masih sulit mengakses fasilitas fototerapi. Inovasi tersebut diungkap dr Mahendra pada Rabu (23/9/2026).

Dua Alat untuk Cegah dan Atasi Bayi Kuning

Alat pertama, AirbiliNest, merupakan sistem dan metode fototerapi portabel berbentuk sangkar berbahan tekstil. Alat ini dirancang lebih aman, fleksibel, dan efektif bagi pasien bayi kuning.

Alat kedua yang diciptakan dr Mahendra adalah AirbiliSun, yang berfungsi sebagai pendamping AirbiliNest.

Kedua ada AirbiliSun, inovasi pendamping yang dirancang khusus dengan memanfaatkan tenaga sinar matahari untuk mencegah bayi kuning. Konsep menjemur bayi yang aman dan efektif.

dr Mahendra Tri Arif Sampurna SpA(K) PhD, dokter FK Unair

Tantangan Akses Fototerapi di Daerah Terpencil

Menurut dr Mahendra, dua alat tersebut lahir untuk menjawab sulitnya penanganan bayi kuning di pelosok Indonesia. Ia mencatat ada sekitar 6.800 bayi di daerah terpencil yang selama ini belum mendapat akses memadai terhadap alat fototerapi yang bekerja cepat, efektif, dan efisien.

Lampu fototerapi portabel karya FK UNAIR ini dirancang agar dapat menjangkau daerah perifer dan terisolasi dengan mudah. Kami sangat berharap adanya dukungan penuh dari pemerintah agar inovasi ini bisa terdistribusi secara merata, sehingga program 'No Baby Left Behind' dapat terwujud demi menyelamatkan jiwa bayi-bayi di seluruh pelosok negeri.

dr Mahendra Tri Arif Sampurna SpA(K) PhD, dokter FK Unair

Lisensi Paten dan Dukungan Pemerintah

Universitas Airlangga telah resmi menandatangani kontrak lisensi paten untuk inovasi kesehatan tersebut. Dekan FK Unair, Prof Eighty Mardiyan Kurniawati, menyambut positif kolaborasi ini dan menyebut kerja sama itu memotivasi sivitas akademika untuk terus menciptakan inovasi kesehatan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Kami sangat bersyukur dan bangga atas apresiasi langsung dari Bapak Menteri Hukum RI. Respons positif ini menjadi pemacu semangat bagi seluruh sivitas akademika dan peneliti di FK UNAIR untuk terus melahirkan inovasi kesehatan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memberikan manfaat nyata serta berdampak luas bagi masyarakat.

Prof Eighty Mardiyan Kurniawati, Dekan FK Unair

Penandatanganan lisensi paten berlangsung pekan lalu di ACC Unair. Menteri Hukum Supratman Andi Agtas hadir dan meninjau langsung inovasi tersebut. Ia menekankan pentingnya hilirisasi riset agar tidak berhenti di ruang laboratorium atau publikasi ilmiah semata.

Inovasi tidak boleh berhenti pada penciptaan ide dan penelitian, tetapi harus mampu dihilirisasi sehingga memberikan nilai tambah ekonomi dan manfaat nyata bagi masyarakat.

Supratman Andi Agtas, Menteri Hukum RI

Menurut Supratman, inovasi mencerminkan kemandirian berpikir dan keberanian suatu bangsa untuk tidak hanya mengikuti perubahan, tetapi juga menjadi bagian dari penciptaan perubahan itu sendiri di tengah dinamika global. Ia menambahkan, sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan masyarakat perlu terus diperkuat agar kekayaan intelektual anak bangsa dapat menyokong kemandirian nasional.