PT SIER (Surabaya Industrial Estate Rungkut) mengajak pelaku UMKM lokal menjajaki pasar yang lebih luas melalui Jatim Fest 2026. Pameran tersebut digelar di Grand City Convex Surabaya pada 30 September–4 Oktober, seperti dilaporkan ANTARA Jatim.
Pameran sebagai ruang promosi dan jejaring
SIER memandang partisipasi dalam pameran sebagai cara menguatkan promosi dan jaringan bisnis, sekaligus menjaga kelangsungan usaha produk lokal. Bagi pelaku usaha, acara ini juga menjadi tempat mengenalkan barang dagangan kepada calon pembeli yang lebih banyak serta menjajaki kerja sama.
Di pameran itu, Holding BUMN Danareksa membawa empat UMKM yang berasal dari anggota holding. Keempatnya adalah:
- Nikita Etnik, binaan PT SIER
- Athaya Arts, dari PT Danareksa (Persero)
- Kang Nabil, dari PT Jakarta Industrial Estate Pulogadung (JIEP)
- Kirana Khimar, dari PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN)
Menurut laporan ANTARA, kehadiran keempat UMKM itu dimaksudkan sebagai ruang untuk memperkenalkan produk kepada konsumen yang lebih banyak. Di saat yang sama, pameran dipandang membuka kesempatan kolaborasi dan pengembangan pasar bagi para pelaku usaha.
Nikita Etnik: aksesori batu alam dan tembaga bakar
Nikita Etnik milik Feni Permonowati menjual perhiasan dan aksesori buatan tangan dari batu alam serta tembaga bakar. Usahanya sudah berproduksi sejak 2015. Feni menyampaikan keterangan itu di Surabaya pada Minggu.
“Produk saya aksesori buatan tangan semuanya. Dasarnya semua dari batu dan tembaga, tembaga bakar. Karena batunya batu asli, biasanya satu koleksi hanya satu karena memang batunya batu alam, jadi tidak ada kembarnya dan terkesan eksklusif,”
— Feni Permonowati, pemilik Nikita Etnik
Menurut Feni, Jatim Fest 2026 merupakan pertama kalinya ia ikut pameran bersama SIER. Ia menilai acara ini turut membuka kesempatan bekerja sama dengan pelaku UMKM lain.
Athaya Arts: busana dan kriya dari material sisa
Peserta lain, Athaya Arts, berasal dari Malang dan tercatat sebagai UMKM dari PT Danareksa (Persero). Usaha ini membawa busana dan kriya dengan semangat inklusivitas dan keberlanjutan. Bahan sisa diolah ulang, misalnya menjadi jaket, sepatu, kalung, dan barang dari potongan kain perca.
Pemiliknya berharap pameran ini membuat produknya dikenal di luar daerah asal sekaligus membuka pasar baru.
“Dengan pameran ini kesempatan kita mengenalkan produk-produk kami bisa lebih luas, tidak hanya di kota asal, tapi juga ke kota lain,”
— Pemilik Athaya Arts
Yang belum dirinci sumber
Laporan ANTARA tidak memuat data jumlah pengunjung maupun nilai transaksi selama pameran berlangsung. Sumber juga tidak menjelaskan rincian produk dari Kang Nabil dan Kirana Khimar, dua UMKM holding lainnya yang ikut tampil.



