Warga RW 01 Polakwonorejo di Kampung Peneleh, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya, merintis usaha budidaya semut rangrang untuk menghasilkan kroto. Usaha yang digagas Karang Taruna setempat ini menyiasati keterbatasan lahan di kawasan permukiman padat dengan harga jual kroto yang bisa mencapai Rp400 ribu per kilogram.

Modal Toples Bekas dan Paralon

Budidaya kroto di Peneleh sudah berjalan lebih dari tiga bulan. Warga memanfaatkan barang-barang sederhana seperti toples makanan bekas dan potongan pipa paralon sebagai media tempat semut rangrang berkembang biak, tanpa membutuhkan lahan luas.

Proyek produktif ini sepenuhnya dipercayakan kepada generasi muda kampung melalui wadah Karang Taruna. Dalam prosesnya, para pemuda dibimbing oleh tokoh senior yang lebih dulu memahami seluk-beluk cara memelihara semut rangrang agar bisa menghasilkan kroto dengan kualitas baik.

Ketua Karang Taruna RW 01 Polakwonorejo, Nino Nabigh, mengatakan usaha ini masih dalam tahap awal dan sejumlah koloni semut sudah mulai menghasilkan kroto berkualitas baik. Ia menyampaikan hal itu pada Rabu (23/9/2026), tak lama sebelum warga bersiap menggelar panen perdana.

Kami masih merintis. Mohon supportnya. Ini mau panen perdana.

Nino Nabigh, Ketua Karang Taruna RW 01 Polakwonorejo Peneleh

Krotonya bagus-bagus. Meski hanya memanfaatkan toples makanan bekas, dan paralon seadanya.

Nino Nabigh, Ketua Karang Taruna RW 01 Polakwonorejo Peneleh

Harga Tinggi karena Permintaan Pecinta Burung

Kroto menjadi komoditas yang diincar karena menjadi pakan wajib dengan kualitas terbaik bagi burung kicauan. Jumlah pemilik dan komunitas pecinta burung yang terus bertambah membuat permintaan kroto ikut meningkat, sementara pasokan di pasaran terbilang sulit didapat sehingga harganya melonjak hingga Rp400 ribu per kilogram.

Kondisi pasar yang menggiurkan inilah yang mendorong warga Peneleh melihat budidaya semut rangrang sebagai peluang usaha baru di tengah lahan kampung yang terbatas.

Bagian dari Program Ekonomi Kreatif Kampung

Rintisan usaha ini juga menjadi jawaban warga atas tantangan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi yang mendorong kampung-kampung mengembangkan kegiatan ekonomi berbasis kampung guna mengikis angka pengangguran. Lewat program tersebut, kampung berpeluang mendapat dukungan dana Rp5 juta per bulan yang dikhususkan untuk usaha kreatif yang digarap generasi muda di setiap kampung.

Siasati Suhu Panas Surabaya

Pemilihan semut rangrang sebagai komoditas sempat menimbulkan kekhawatiran. Ketua RW setempat, Achmad Guritno, menyebut semut rangrang membutuhkan kondisi lingkungan yang mendukung agar dapat berkembang biak dengan baik.

Sementara itu, suhu udara di Surabaya cenderung panas sehingga berpotensi menghambat perkembangan koloni. Untuk menyiasati hal ini, warga kemudian membangun sistem sirkulasi udara di ruang budidaya agar semut rangrang tetap dapat tumbuh dan menghasilkan kroto secara optimal meski berada di tengah kepadatan permukiman kota.