Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Surabaya menyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi kekeringan akibat fenomena El Nino. Kepala BPBD Surabaya Irvan Widyanto mengatakan langkah itu dimulai dengan berkoordinasi bersama BMKG, seperti dilaporkan detikJatim, Selasa (22/9/2026).

El Nino dan risiko kemarau lebih panjang di Surabaya

Menurut detikJatim, fenomena El Nino terjadi di sejumlah daerah di Jawa Timur, termasuk Surabaya. Kondisi ini diperkirakan berlangsung hingga Februari 2027.

Kemarau pun berpotensi berjalan lebih lama daripada biasanya. Karena itu, beberapa kawasan di Surabaya menghadapi risiko kekeringan.

Irvan menjelaskan, koordinasi dengan BMKG dilakukan karena El Nino diperkirakan berlangsung lebih lama. Menurutnya, koordinasi itu dilakukan agar langkah antisipasi bisa ditentukan sejak dini.

Rencana aksi pengurangan panas dan mini bosem

BPBD Surabaya juga telah menyusun rencana aksi pengurangan panas bersama sejumlah instansi dan pihak terkait. Aksi itu mencakup gerakan penghijauan, penyediaan area teduh di ruang terbuka, dan kampanye penggunaan transportasi umum.

Kami juga membuat mini bosem di beberapa titik untuk mengurangi dampak panas yang ditimbulkan oleh efek cuaca panas.

Irvan Widyanto, Kepala BPBD Surabaya

Baca jugaMasjid Nasional Al Akbar Surabaya Jadi Pusat Salat Istisqa' Jatim Jumat 25 September 2026

Menjaga pasokan air bersih bagi warga

Untuk menjaga ketersediaan air bersih, Irvan menyebut pihaknya memperluas jaringan dan sumber daya air bersih bersama pihak terkait. Langkah ini disiapkan untuk mengantisipasi kurangnya pasokan air.

Ia pun mengimbau warga agar bijak memakai air. Irvan menegaskan masyarakat diminta menghemat penggunaan air selama musim kemarau.

Waspada kebakaran selama kemarau

Selain kekeringan, BPBD Surabaya memberi edukasi kepada warga soal risiko kebakaran yang naik selama kemarau panjang, sebab lingkungan sekitar mengering. Warga diimbau tidak membakar sampah, tidak membuang puntung rokok sembarangan, dan tidak membakar rumput atau semak.

BPBD juga terus memantau lahan-lahan yang rawan terbakar. Selama Agustus 2026, tercatat 76 kejadian kebakaran di Surabaya. Surabaya Barat dan Surabaya Timur disebut sebagai dua wilayah yang paling rawan.

Yang perlu diperhatikan warga

Langkah BPBD Surabaya menyentuh tiga hal. Untuk pasokan air, BPBD memperluas jaringan dan sumber daya air bersih. Untuk dampak cuaca panas, BPBD menyusun rencana aksi pengurangan panas, termasuk membuat mini bosem. Untuk risiko kebakaran, BPBD memberi edukasi dan memantau lahan rawan. Berikut hal-hal yang diimbau kepada warga.

  • Hemat penggunaan air sehari-hari selama kemarau.
  • Jangan membakar sampah, rumput, atau semak.
  • Jangan membuang puntung rokok sembarangan.
  • Warga di Surabaya Barat dan Surabaya Timur perlu lebih waspada terhadap kebakaran.

Sumber yang dirujuk belum merinci lokasi pembuatan mini bosem maupun wilayah Surabaya yang paling berisiko mengalami kekeringan. Pembaruan akan disampaikan bila BPBD Surabaya atau BMKG merilis informasi lanjutan.