Api terbuka, termasuk penggunaan kompor, menjadi penyebab kebakaran teridentifikasi terbanyak di Kota Surabaya dalam lima tahun terakhir. Data Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Surabaya mencatat 856 kejadian akibat api terbuka sepanjang 2021–2025, seperti dilaporkan TribunJatim pada Kamis (8/10/2026).

Bagi warga Surabaya, angka ini relevan karena api terbuka berkaitan dengan aktivitas sehari-hari di rumah, mulai dari memasak hingga menyalakan lilin. Berikut penjelasan arti data tersebut, cara membacanya, dan imbauan dari DPKP.

Apa yang dimaksud api terbuka

Dalam data Pemkot Surabaya, api terbuka berarti penggunaan sumber api secara langsung. Kategori ini mencakup kompor, korek api, lilin, hingga obat nyamuk bakar. Artinya, istilah tersebut tidak hanya merujuk pada kompor, tetapi juga benda-benda kecil yang lazim ada di rumah tangga.

Pemkot juga pernah mencatat bahwa sebagian kejadian dalam kategori ini dipicu kelalaian warga. Contohnya meninggalkan sisa pembakaran sampah atau membuang puntung rokok sembarangan.

Angka kebakaran Surabaya 2021–2025

Di antara penyebab yang sudah teridentifikasi, api terbuka tercatat paling banyak, yakni 856 kejadian. Sebagai pembanding, kebakaran akibat hubungan pendek arus listrik tercatat 655 kejadian pada periode yang sama.

Meski begitu, gambaran ini belum utuh. Sebanyak 1.389 kejadian masih masuk kategori dalam penyelidikan, sedangkan total kebakaran yang tercatat selama lima tahun itu mencapai 2.704 kejadian. Dengan kata lain, penyebab sejumlah besar kejadian belum final dalam catatan DPKP.

Rincian per tahun

  • 2021: api terbuka 246 kejadian, hubungan listrik 200 kejadian.
  • 2022: api terbuka 212 kejadian, hubungan listrik 219 kejadian.
  • 2023: api terbuka 247 kejadian, hubungan listrik 95 kejadian.
  • 2024: api terbuka 91 kejadian, hubungan listrik 71 kejadian.
  • 2025: api terbuka 60 kejadian, hubungan listrik 70 kejadian.

Pada 2021, api terbuka menjadi penyebab tertinggi dibandingkan hubungan listrik. Tahun berikutnya, polanya berbalik: hubungan listrik tercatat sedikit lebih banyak daripada api terbuka.

Pada 2023, api terbuka kembali di posisi teratas, dengan selisih yang cukup lebar dari hubungan listrik. Kejadian akibat api terbuka pada 2023 itu juga merupakan angka tahunan tertinggi dalam data yang disajikan.

Pada 2024, api terbuka turun tajam dari 247 menjadi 91 kejadian, sementara hubungan listrik turun lebih moderat dari 95 menjadi 71 kejadian. Pada 2025, hubungan listrik tercatat 70 kejadian, lebih tinggi daripada api terbuka yang 60 kejadian. Sumber tidak menjelaskan alasan perubahan angka dari tahun ke tahun.

Baca jugaDPKP Surabaya Imbau Warga Tak Abaikan Bau Gas Usai Ledakan LPG 50 Kg di San Antonio Pakuwon City

Mengapa kompor dan gas LPG perlu diwaspadai

Penggunaan kompor punya risiko tersendiri, terutama saat terjadi kebocoran gas LPG. Pemkot Surabaya terus mengingatkan warga agar lebih peka terhadap tanda kebocoran untuk mencegah ledakan maupun kebakaran.

Kepala DPKP Surabaya, Laksita Rini Sevriani, menjelaskan bahwa kebocoran gas sering kali tidak menimbulkan suara. Menurut dia, tanda yang paling mudah dikenali justru aroma khas LPG.

“Sebenarnya masyarakat bisa ikut berpartisipasi dalam mengantisipasi kebakaran yang diakibatkan api terbuka.”

— Laksita Rini Sevriani, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya

Pernyataan itu disampaikan Laksita saat dikonfirmasi di Surabaya, Kamis (8/10/2026). Ia menyebut masyarakat bisa ikut berpartisipasi dalam mencegah kebakaran akibat api terbuka.

Langkah yang diimbau DPKP kepada warga

Laksita mengimbau warga peka terhadap aroma gas LPG di rumah. Bila tercium bau gas, warga diminta segera mematikan kompor, mencopot regulator, dan membawa tabung ke area terbuka.

Selain dari dapur, pembakaran sampah juga disebut sebagai aktivitas yang perlu diwaspadai. Sisa pembakaran yang ditinggalkan atau puntung rokok yang dibuang sembarangan tercatat memicu sebagian kejadian kategori api terbuka.

Imbauan ini bersifat praktis dan bisa diikuti setiap rumah tangga. Tiga langkah yang disebut adalah mematikan kompor, mencopot regulator, dan membawa tabung ke area terbuka saat bau gas tercium, sejalan dengan upaya Pemkot mencegah ledakan maupun kebakaran.

Catatan membaca data

Angka 856 kejadian hanya mewakili kebakaran yang penyebabnya sudah teridentifikasi. Karena 1.389 kejadian masih dalam penyelidikan, komposisi penyebab berpotensi berubah bila status kasus-kasus itu rampung.

Data yang dikutip TribunJatim juga tidak merinci lokasi kejadian, korban, maupun nilai kerugian. Karena itu, angka tersebut sebaiknya dibaca sebagai gambaran umum penyebab kebakaran di Surabaya, bukan penilaian atas wilayah tertentu.

Apa selanjutnya

Sumber yang tersedia belum memuat program baru atau target penurunan kebakaran dari Pemkot Surabaya. Yang tampak jelas baru sebatas pesan kewaspadaan dari DPKP kepada warga terkait api terbuka dan kebocoran gas LPG.

Rincian tambahan, termasuk hasil penyelidikan atas kejadian yang penyebabnya belum diketahui, belum disampaikan dalam laporan sumber.