Warga bantaran Kali Mrutu, Kelurahan Wonokusumo, Surabaya, menggelar aksi bersih sungai pada Sabtu (26/9/2026) pagi. Kaum ibu atau emak-emak menjadi penggerak utama kegiatan yang bertepatan dengan peringatan Hari Sungai Dunia 2026 itu, seperti dilaporkan beritajatim.com.
Aksi tersebut bagian dari gerakan “Kali Mrutu Menuju Sungai Lestari” yang digagas Yayasan Lohjinawi. Selain membersihkan sampah, warga berupaya mengubah cara pandang terhadap sungai yang selama bertahun-tahun lekat dengan bau menyengat dan tumpukan plastik.
56 ton sampah terkumpul lewat bank sampah
Menurut beritajatim.com, sepanjang Juni hingga Agustus 2026 sebanyak 56 ton sampah berhasil dikumpulkan di kawasan itu. Para ibu berperan besar sebagai penggerak bank sampah, memilah botol plastik, kantong plastik, hingga limbah rumah tangga dengan sarung tangan karet dan masker.
Bagi mereka, memilah sampah tidak lagi sebatas kerja bakti. Kegiatan itu disebut sebagai upaya menjaga lingkungan sekaligus membantu ekonomi keluarga.
Mengubah cara pandang warga terhadap sungai
Direktur Yayasan Lohjinawi, Yasmin, menyebut perubahan cara pandang warga sebagai hal penting dalam gerakan ini. Perubahan itu didorong lewat edukasi dan kegiatan dari pintu ke pintu oleh para kader lingkungan.
“Dulu sungai ini anggapannya tempat buang sampah paling gampang. Tinggal lempar, beres. Tapi kalau banjir dan bau, kita sendiri yang kena dampaknya,”
— Yasmin, Direktur Yayasan Lohjinawi
Warga kini mulai memandang Kali Mrutu sebagai bagian dari lingkungan bersama yang harus dirawat, bukan sekadar saluran air atau tempat membuang barang yang tak terpakai.
Baca jugaEri Cahyadi dan KAI Daop 8 Cek Tumpukan 60 Ton Sampah Ilegal di Belakang Pasar Turi Surabaya
Titik pembuangan liar dibenahi dengan barang bekas
Perubahan paling terlihat ada di sepanjang bantaran. Sejumlah titik yang sebelumnya dipakai membuang sampah secara liar mulai ditata. Botol plastik bekas diolah menjadi pot tanaman gantung berwarna-warni, sedangkan kayu sisa dipakai sebagai pagar pembatas agar kawasan tampak lebih rapi.
“Jadi kita menyulap sudut kumuh menjadi kanvas daur ulang,”
— Yasmin, Direktur Yayasan Lohjinawi
Upaya itu juga mencakup pemasangan trash boom, yaitu jaring penyaring sampah di aliran kali, serta penanaman pohon di beberapa titik bekas tumpukan sampah.
Melibatkan donor internasional dan Pemkot Surabaya
Gerakan ini melibatkan berbagai pihak. Dukungan fasilitas berasal dari kolaborasi donor internasional dan Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
Meski begitu, beritajatim.com mencatat kekuatan utama gerakan ada pada kesadaran warga sendiri. Masyarakat yang setiap hari berhadapan dengan persoalan sampah kini mengambil peran sebagai bagian dari solusi, termasuk dengan menanam pohon dan berhenti membuang sampah ke sungai.


