Ikan sisa tangkapan nelayan di kawasan Tambak Wedi, Kenjeran, Surabaya, dinilai berpotensi menjadi bahan terasi dan petis khas kota ini. Gagasan itu dituangkan seorang kolumnis dalam tulisan opini yang dimuat ANTARA Jatim, dengan menyoroti ikan yang selama ini terbuang.
Penulis opini tersebut adalah kolumnis, pengajar, dan praktisi transaksional analisis yang juga menjabat Dewan Penasehat LHKP PD Muhammadiyah Surabaya serta Wakil Ketua ICMI Jatim. Naskah ini merangkum pandangannya, bukan temuan lembaga resmi.
Perkiraan ikan terbuang di Tambak Wedi
Menurut cerita para nelayan yang dikutip penulis, jumlah nelayan aktif di Tambak Wedi dan Kenjeran sekitar 90 orang. Sekali melaut, hasil tangkapan rata-rata sekitar 10 kilogram.
Dari jumlah itu, kira-kira 2 kilogram per nelayan menjadi ikan yang tidak dimanfaatkan atau dibuang. Dengan hitungan sederhana, penulis memperkirakan sekitar 180 kilogram per hari, atau sekitar 5,4 ton dalam sebulan.
Penulis menegaskan angka itu bukan data statistik resmi, melainkan perkiraan berdasarkan penuturan nelayan. Bila ikan tersebut dihargai Rp1.000 per kilogram, potensinya sekitar Rp5,4 juta per bulan. Ia mengakui nilainya belum besar, tetapi menekankan soal mengubah sesuatu yang dianggap sampah menjadi bernilai.
Peluang terasi dan petis khas Kenjeran
Ikan tersebut, menurut penulis, bisa diolah menjadi terasi, petis, atau produk pangan lain. Rantai ekonomi baru dinilai dapat tumbuh: nelayan memperoleh nilai tambah, perempuan kampung terlibat dalam pengolahan, dan anak muda mengurus desain, merek, serta pemasaran digital.
Baca jugaSIER Dorong UMKM Binaan Perluas Pasar di Jatim Fest 2026 Grand City Convex Surabaya
Penulis menyebut terasi dan petis lekat dengan kuliner Surabaya, dari sambal, rujak, hingga lontong. Namun produk yang dicari sebagai khas Surabaya, katanya, kerap berlabel produksi Tuban, Sidoarjo, Madura, dan daerah sekitar. Ia mempertanyakan mengapa Surabaya, yang punya pantai, nelayan, dan pasar wisata, belum memiliki produk serupa dari nelayannya sendiri.
Ia membayangkan wisatawan Kenjeran pulang membawa “Terasi Kenjeran” atau “Petis Tambak Wedi” sebagai buah tangan.
Peran pemerintah dan warga
Penulis menyebut gagasan ini pernah ia bicarakan dengan Sekda Lilik, Kepala Dinas Koperasi, dan Erna ketika masih menjabat Asisten I Pemerintah Kota. Tulisan itu tidak memuat tanggapan dari pihak-pihak tersebut.
Menurutnya, pemerintah tidak perlu mengambil alih usaha. Nelayan tetap melaut, warga mengolah, anak muda memasarkan, dan pelaku usaha membuka jaringan pasar. Peran pemerintah adalah memfasilitasi teknologi, legalitas, pembiayaan, pendampingan, promosi, dan akses pasar.
Penulis juga mengaitkan usulan ini dengan ekonomi sirkular yang kini masuk pembicaraan pembangunan kota. Menurutnya, konsep itu harus dirasakan di kampung dan tidak berhenti sebagai istilah dalam dokumen.
Dalam tulisannya, ia juga menyinggung ide lain hasil obrolan dengan nelayan, seperti penataan hilir Kali Tebu dan Pantai Kenjeran sebagai kawasan wisata pesisir serta gagasan Mancing Nusantara di Tambak Wedi.



