Fitralandi Despalova Islami (30), putra musisi kafe Slamet Moelyadi (55) yang dibacok tiga pria tak dikenal di Jalan Teuku Umar, Surabaya, mengungkap petunjuk baru soal latar belakang penyerangan itu. Menurut cerita Fafa, sapaan akrabnya, salah satu pelaku sempat melontarkan tuduhan bahwa ayahnya pernah melakukan penganiayaan terhadap kerabat mereka sebelum melayangkan sabetan celurit. Meski demikian, hingga sepekan setelah kejadian, polisi belum menangkap pelaku dan keluarga terus mendesak aparat mempercepat pengusutan.

Kronologi penyerangan di Jalan Teuku Umar

Berdasarkan laporan Surya.co.id, insiden terjadi Rabu (16/9/2026) sekitar pukul 00.30 WIB. Slamet baru saja menyelesaikan pentas di sebuah kafe di kawasan Jalan Doktor Wahidin, lalu mengendarai sepeda motor Honda Vario bernomor polisi L-2681-J menuju rumahnya di Jalan Petemon, Kelurahan Petemon, Kecamatan Sawahan, sambil membawa alat musik bass.

Saat melintas di Jalan Teuku Umar, Kelurahan Dr Soetomo, Kecamatan Tegalsari, korban menepi sejenak untuk menyalakan rokok. Tak lama kemudian, tiga pria yang berboncengan satu sepeda motor mendekat dari arah belakang sebelah kanan.

Tuduhan pelaku dan perlawanan korban

Fafa menceritakan, salah seorang pelaku sempat menuduh ayahnya pernah menganiaya kerabat mereka sebelum situasi berubah menjadi kekerasan. Salah satu pelaku mengayunkan celurit ke arah Slamet, yang berusaha menangkis dengan tangan kanan hingga lengannya mengalami luka robek parah nyaris putus.

Korban sempat melawan menggunakan rantai pengaman sepeda motornya, tetapi upaya itu tidak maksimal karena darah terus mengucur deras dari lukanya. Slamet akhirnya tumbang dan sempat kehilangan kesadaran akibat kehabisan banyak darah.

Kondisi korban dan penanganan medis

Akibat luka robek parah di lengan kanannya, Slamet harus menjalani operasi dan transfusi darah di RSUD dr Soetomo Surabaya, seperti dilaporkan Surya.co.id. Fafa mengaku awalnya sempat menerima kabar bahwa ayahnya mengalami kecelakaan lalu lintas, sebelum mengetahui kondisi sebenarnya setelah mendapat penjelasan lebih lanjut.

Keluarga desak polisi segera tangkap pelaku

Fafa menyebut ayahnya sudah sepekan menjalani perawatan, namun belum ada kabar penangkapan terhadap para pelaku. Ia menegaskan laporan ke polisi dan proses pemeriksaan berita acara sudah dilakukan sejak awal kejadian, tetapi para pelaku hingga kini masih bebas berkeliaran.

Update terbaru masih belum ada konfirmasi dari pihak kepolisian, tapi saya berdoa semoga pihak kepolisian dapat mencari pelaku secepatnya

Fitralandi Despalova Islami, putra korban

Fafa berharap kepolisian bergerak cepat mengusut tuntas kasus ini agar tidak menimbulkan ketakutan di tengah warga Surabaya. Ia juga meminta aparat menambah frekuensi patroli di kawasan-kawasan yang dinilai rawan kriminalitas, terutama pada jam-jam rawan seperti dini hari.

Kalau harapan saya semoga pihak kepolisian dapat lebih tegas lagi dan dapat lebih sering patroli, terus dapat cepat tangkap pelakunya, biar enggak ada keresahan di masyarakat Surabaya

Fitralandi Despalova Islami, putra korban

Status penyelidikan hingga kini

Meski laporan resmi dan pemeriksaan BAP sudah dilakukan sejak hari kejadian, keluarga menyatakan belum menerima kabar apa pun soal identitas maupun penangkapan para pelaku. Hingga berita ini disusun, pihak kepolisian belum memberikan konfirmasi lebih lanjut mengenai perkembangan penyelidikan, seperti dilaporkan Surya.co.id.