Seorang santri difabel berusia 15 tahun di Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, diduga menjadi korban perundungan dan penganiayaan oleh senior di pondok pesantren tempatnya menimba ilmu. Foto luka-lukanya viral di media sosial. Menurut tetangga korban, seperti dilaporkan detikJatim, korban kini trauma berat dan tidak mau kembali mondok.
Luka bakar di punggung dan tangan
Unggahan yang beredar memperlihatkan korban dengan luka bakar di punggung dan tangan, serta lebam di leher dan bagian tubuh lain. Luka bakar itu disebut akibat disetrika oleh senior. Pengunggah foto juga menulis bahwa korban seorang penyandang disabilitas yang pendiam, kesulitan berjalan dan terbatas dalam berbicara.
Seorang warganet berakun Ziya mengaku sebagai saudara korban. Ia menyebut korban sudah dua kali disetrika. Kejadian pertama mengenai area telinga dan pelipis, sedangkan yang kedua tampak pada foto yang beredar.
Korban tak berani bercerita
Menurut Ziya, korban tidak berani menceritakan kejadian itu kepada keluarga, bahkan ketika keluarga menjenguk ke pondok. Ia menyebut peristiwa terjadi pada Kamis (24/9). Keesokan harinya, kakak korban menjenguk, tetapi korban tetap diam.
Pada Senin, pengurus pondok menghubungi keluarga dan meminta korban dijemput karena badannya panas. Ibu korban curiga setelah melihat luka di tangan anaknya, lalu meminta korban membuka baju dan mendapati luka bakar di punggung. Menurut Ziya, seluruh keluarga menjerit melihatnya.
Keluarga sebut pondok tak tegas
Keluarga mendatangi pondok keesokan paginya untuk meminta kejelasan. Menurut Ziya, mereka tidak mendapat sikap tegas dari pihak pondok.
“Paginya semua keluarga ke pondok tapi gak ada ketegasan dari pondok. Malah saling menyalahkan”
— Ziya, warganet yang mengaku saudara korban
Para terduga pelaku disebut berusia sekitar 18 tahun dan 19 tahun. Seorang tetangga korban yang enggan disebut namanya mengatakan mereka masih mondok dan tidak mendapat hukuman dari pengasuh pondok, padahal pengasuh disebut mengetahui kejadian itu.
Trauma dan enggan kembali mondok
Tetangga tersebut juga menyebut korban mengalami trauma berat dan tidak mau kembali ke pondok. Menurutnya, korban menangis bahkan hanya saat berada di depan pondok. Ia menambahkan bahwa perundungan diduga sudah terjadi berkali-kali sebelum puncaknya berupa penyetrikaan.
Belum ada keterangan resmi
Keterangan dalam laporan ini berasal dari unggahan media sosial, kerabat, dan tetangga korban. Sumber berita belum memuat tanggapan pengelola pondok pesantren, dan tidak menyebut apakah kasus ini sudah dilaporkan ke polisi. Nama pondok juga tidak disebutkan. Sorotisu Surabaya akan memperbarui berita ini bila ada keterangan dari pihak berwenang maupun pengelola pondok.

