Seniman lokal Surabaya, Alif Edi, menuangkan kritik terhadap rencana reklamasi kawasan pesisir lewat mural bertajuk Memoir di Artsubs Balai Pemuda Surabaya. Karya itu dibuat dengan bahan alami dan residu limbah sebagai pewarna. Alif ditemui beritajatim.com pada Jumat (25/9/2026).

Kegelisahan atas mangrove pesisir Surabaya

Menurut laporan beritajatim.com, Alif prihatin pada persoalan lingkungan dan rencana reklamasi di pesisir Surabaya. Rasa prihatin itulah yang mendorongnya membuat Memoir, karya seni yang memuat kritik ekologis.

Memoir lahir dari kegelisahan Alif terhadap ancaman kerusakan ekosistem mangrove di sepanjang pesisir Surabaya, dari wilayah selatan hingga utara. Ia menilai isu proyek Surabaya Waterfront Land berpotensi menghilangkan benteng alami kota dari berbagai ancaman bencana ekologis.

“Ekosistem di sana yang sudah asri dan melindungi Surabaya dari bencana ekologis itu akan hilang. Lambat laun Surabaya bisa tenggelam dan mengalami bencana ekologis serta kekeringan yang lebih parah,”

— Alif Edi, seniman lokal Surabaya

Melalui karyanya, Alif berharap masyarakat dan pihak terkait makin peduli pada keberlangsungan vegetasi mangrove di pesisir Surabaya. Menurut dia, keberadaan ekosistem itu berkaitan dengan upaya menjaga keselamatan lingkungan kota di masa depan.

Arang, ampas kopi, dan sari buah naga jadi pewarna

Pembuatan mural memakan waktu tiga hari. Alif mengusung prinsip 3R, yakni Reuse, Reduce, Recycle, dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan sekitarnya sebagai sumber warna. Secara umum, prinsip itu berarti memakai kembali, mengurangi, dan mendaur ulang.

Untuk warna hitam, ia memakai satu kantong plastik arang yang berasal dari sisa pembakaran sampah di sekitar tempat tinggalnya. Warna cokelat pada bagian awan dibuat dari ampas dua gelas kopi, yang dikerjakan dengan teknik seperti cat air atau watercolor.

Warna merah juga tidak berasal dari cat konvensional. Alif mengolah ekstrak sari buah naga yang ditumbuk bersama karmin, pewarna dari serangga kaktus. Campuran itu diberi sedikit wood stain sebagai pengikat dan air sebagai media cair.

Kritik ekologis lewat bahan yang dianggap limbah

Penggunaan material tersebut menjadi bagian dari konsep Memoir. Karya ini tidak hanya menyampaikan kritik atas persoalan ekologis, tetapi juga menunjukkan bahwa bahan yang selama ini dianggap limbah masih bisa dimanfaatkan.

Warna hitam, cokelat pada awan, dan merah dalam mural itu seluruhnya berasal dari bahan sisa atau bahan alami, bukan pewarna konvensional. Proses kreatif tersebut, menurut laporan beritajatim.com, sekaligus membawa prinsip penggunaan kembali material ke dalam karya seni.

Dengan begitu, pesan tentang pelestarian lingkungan tidak hanya hadir pada gambar, tetapi juga pada cara mural tersebut dikerjakan. Belum ada tanggapan dari pengelola proyek Surabaya Waterfront Land atau pemerintah dalam laporan sumber tersebut.