Penelitian University of Surrey di Inggris menemukan bahwa makanan bergula yang dikonsumsi sejak awal kehidupan berkaitan dengan risiko kecemasan setelah seseorang dewasa. Suara Surabaya melaporkan temuan ini dengan mengutip ANTARA pada Minggu (4/10/2026), sedangkan ANTARA sendiri mengutip New York Post pada Minggu (27/9).
Data 45.000 peserta UK Biobank
Tim peneliti menelaah data medis lebih dari 45.000 peserta UK Biobank. Mereka mendapati bahwa anak yang terpapar gula pada 1.000 hari pertama hidupnya cenderung menghadapi risiko kecemasan yang lebih tinggi ketika dewasa.
Selain itu, gula yang masuk di tahap awal hidup tercatat memberi pengaruh signifikan pada 11 dari 80 area otak yang menjadi objek pengamatan.
Para peserta dipilah menurut lamanya konsumsi gula mereka dibatasi. Ada yang dibatasi sejak janin hingga umur enam, 12, 18, atau 24 bulan, dan ada kelompok yang pembatasannya berhenti begitu lahir.
“Kami secara khusus tertarik untuk memahami apakah konsumsi gula pada masa awal kehidupan dapat berkontribusi terhadap munculnya masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan di kemudian hari”
— Dr. Hana Navratilova, penulis utama studi
Risiko kecemasan dan preferensi makanan manis
Menurut laporan ANTARA, peluang kecemasan paling kecil dijumpai pada peserta yang praktis tidak terpapar gula sejak janin sampai dua tahun pertama. Perempuan yang asupan gulanya tidak dibatasi di usia dini juga disebut lebih berpeluang mengalami kecemasan ketika dewasa.
Gula juga dapat membentuk kebiasaan makan jangka panjang. Peserta yang paling lama terhindar dari gula, yaitu sampai usia 24 bulan, mengaku kurang menyukai makanan manis saat dewasa.
“Meski konsumsi gula meningkat setelah pembatasan tersebut berakhir, lingkungan nutrisi pada masa awal kehidupan tampaknya tetap memiliki relevansi jangka panjang terhadap kesehatan mental”
— Prof. Nophar Geifman, penulis studi
Konteks kelahiran peserta dan rekomendasi gula
Data penelitian dipengaruhi oleh masa lahir peserta, yakni 1951 hingga 1956. Pada masa itu Inggris masih menerapkan penjatahan gula pascaperang, yang kemudian dilonggarkan bertahap. Geifman menilai kondisi tersebut unik karena banyak orang semula nyaris tanpa kelebihan gula, lalu konsumsinya naik pelan-pelan dalam rentang panjang.
ANTARA melaporkan, lembaga seperti USDA dan HHS Amerika Serikat menganjurkan batas gula untuk anak di bawah 25 gram per hari. Kenyataannya, banyak orang menelan sekitar 68 hingga 81 gram sehari, antara lain dari kukis, es krim, minuman berpemanis, dan makanan ultra-proses lain.
Pemanis buatan beserta minuman yang memakainya disebut paling mungkin berpengaruh terhadap gangguan kesehatan mental. Sumber tidak memuat anjuran khusus bagi warga Surabaya maupun Indonesia.



