Ketua Komisi V DPR RI Lasarus mendorong aparat penegak hukum mengusut tuntas kecelakaan KM Virgo Transport 8 yang menelan banyak korban. Pernyataan itu ia sampaikan di gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (30/9/2026), seperti dilaporkan Suara Surabaya.

Menurut laporan tersebut, kasus kecelakaan kapal itu sudah dilimpahkan dari Polda Kalimantan Selatan (Kalsel) ke Mabes Polri.

Komisi V DPR minta semua pihak diusut

Lasarus meminta penyidikan tidak berhenti pada perusahaan pemilik kapal. Ia menghendaki seluruh pihak yang diduga memiliki keterlibatan dalam peristiwa itu ikut diperiksa.

Ketua Komisi V menilai penegakan hukum penting karena kecelakaan kapal telah terjadi berulang kali.

“Ya, kami mendorong, memang ada penegakan hukum di sini. Karena ini sudah berulang, ya, sudah berulang,”

— Lasarus, Ketua Komisi V DPR RI

Judul laporan Suara Surabaya menyebut DPR mempertanyakan validitas ramp check terhadap kapal tersebut. Namun, bagian laporan yang menjadi rujukan naskah ini tidak memuat rincian soal pemeriksaan itu, sehingga penjelasan lebih lanjut menunggu keterangan resmi.

Latar: korban asal Surabaya dimakamkan

Salah satu korban kecelakaan tersebut, Triyono Basuki (45), sopir truk ekspedisi asal Kecamatan Bubutan, Surabaya, dimakamkan di TPU Tembok Dukuh, Selasa (29/9/2026) sekitar pukul 10.00 WIB. Kabar itu dilaporkan Surya.co.id.

Menurut Surya.co.id, Triyono meninggal dalam kecelakaan KM Virgo Transport 8 di perairan Masalembo, Laut Jawa, Minggu (13/9/2026) dini hari. Jenazahnya teridentifikasi pada hari ke-16 Operasi SAR, Senin (28/9/2026).

Tim DVI Polda Kalimantan Selatan memeriksanya di RS Bhayangkara Banjarmasin melalui pemeriksaan DNA dan pencocokan ciri fisik dengan data antemortem dari keluarga. Selain itu, KTP milik Triyono ditemukan relatif utuh di saku celana pendeknya.

Kakak ketiganya, Tari Suartini (50), mengaku sempat terkejut saat menerima telepon dari petugas DVI Polda Kalimantan Selatan. Kepulangan Triyono menjadi akhir penantian panjang keluarga yang sebelumnya berada dalam ketidakpastian selama 16 hari.

Jenazah dipulangkan ke rumah kelahirannya di Kecamatan Bubutan, lalu diantar warga ke pemakaman. Tari mengaku tak menyangka banyak orang hadir, termasuk lurah, camat, dan BPBD, saat ditemui di rumah duka pada Rabu (30/9/2026).

Keluarga juga mengungkap bahwa semasa hidup Triyono rutin membagikan 10 nasi bungkus setiap Kamis kepada warga yang membutuhkan tanpa ingin identitasnya diketahui. Ia bahkan melarang keluarganya menyebut namanya saat membagikan nasi. Kebiasaan itu baru terungkap setelah ia meninggal.

Yang belum diketahui

Sumber yang dipakai belum memuat jumlah korban secara keseluruhan, status hukum pihak mana pun, maupun jadwal pemeriksaan di Mabes Polri. Informasi tersebut menunggu keterangan resmi kepolisian dan tim SAR gabungan.