Ketua Komisi A DPRD Surabaya Yona Bagus Widyatmoko mendorong pengembangan ketahanan pangan berbasis lingkungan di kampung-kampung Surabaya. Politikus Fraksi Gerindra itu menyiapkan 200 tong komposter untuk dibagikan bertahap kepada RW binaannya di Dapil 5, seperti dilaporkan ANTARA Jatim dan Surya.co.id.

Pembagian sudah berjalan di Kelurahan Kedurus. Menurut Surya.co.id, bantuan itu disalurkan saat Yona menggelar reses.

Komposter sebagai pintu masuk ketahanan pangan kampung

Yona yang akrab disapa Cak Yebe menegaskan komposter bukan tujuan akhir program. Alat pengolah sampah organik itu disebut sebagai pintu masuk untuk membangun kegiatan produktif warga di lingkungan masing-masing.

Sampah organik yang diolah dapat diarahkan untuk mendukung tanaman pangan, urban farming, atau kegiatan lain sesuai potensi wilayah. Program ini juga dimaksudkan agar warga tidak sekadar menerima bantuan, tetapi mengembangkan kegiatan secara mandiri.

“Konsepnya saya terinspirasi dari Malaka Jaya. Di sana pengolahan limbah organik tidak berdiri sendiri, tetapi bisa dikembangkan menjadi bagian dari ketahanan pangan dan kegiatan produktif warga,”

— Yona Bagus Widyatmoko, Ketua Komisi A DPRD Surabaya

Rujukan Kampung Malaka Jaya dan penyesuaian di Surabaya

Yona mengadaptasi model Kampung Malaka Jaya di Jakarta Timur. Menurut dia, kawasan itu dipilih sebagai rujukan karena pengelolaan limbahnya berkaitan langsung dengan ketahanan pangan dan pemberdayaan warga.

Di kampung tersebut, sampah organik diolah bersamaan dengan penanaman tanaman produktif dan budidaya ikan, lalu berujung pada kegiatan ekonomi warga. Semuanya berada dalam satu ekosistem lingkungan. ANTARA menyebut kolam gizi dan budi daya lele ikut menjadi bagian dari rangkaian aktivitas yang saling berhubungan itu.

Baca jugaKetua Komisi A DPRD Surabaya Yona Bagus Bagikan Tong Komposter, Adaptasi Model Kampung Malaka Jaya

Yona menyatakan konsep tersebut tidak akan diterapkan mentah-mentah. Penerapannya disesuaikan dengan kondisi lingkungan, ketersediaan lahan, dan kebutuhan warga setempat.

“Tidak harus persis sama dengan Malaka Jaya. Kita sesuaikan dengan kondisi kampung di Surabaya, tetapi prinsipnya sama, bagaimana limbah organik bisa dikelola dan hasilnya kembali memberikan manfaat untuk warga,”

— Yona Bagus Widyatmoko, Ketua Komisi A DPRD Surabaya

Wilayah sasaran dan jumlah tong komposter

Titik awal program adalah Perumahan Gunung Sari Indah, tepatnya RW 9 Kelurahan Kedurus, yang menerima 20 unit tong komposter berkapasitas 160 liter. Dari sana program diperluas ke sejumlah RW lain.

  • RW 3 dan 4 Sumberan, Kelurahan Balas Klumprik, Kecamatan Wiyung
  • RW 4 Kelurahan Jajar Tunggal
  • RW 1 Kelurahan Kedurus
  • RW 3 Kelurahan Jeruk
  • RW 2 dan 3 Kelurahan Warugunung

Untuk tahap awal, Yona menyediakan sedikitnya empat tong komposter bagi setiap RW yang berminat menjalankan pengolahan limbah organik. Jumlahnya bisa disesuaikan dengan cakupan wilayah dan luas RT dalam satu RW.

Menurut Yona, warga perlu didorong dengan stimulus agar pengelolaan sampah organik berbasis lingkungan berjalan. Ia menyebut pengolahan limbah organik sebagai pintu masuk untuk membangun ekosistem ketahanan pangan dari tingkat rumah tangga.