Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Jawa Timur meningkat pada 2026 dibanding tahun sebelumnya. Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jatim menunjukkan Kota Surabaya menjadi daerah dengan laporan kasus tertinggi pada periode Januari–September 2026, seperti dilaporkan Suara Surabaya dan detikcom.
Angka kasus ISPA di Jawa Timur
Menurut Dinkes Jatim, rata-rata kasus ISPA sepanjang 2026 mencapai sekitar 151.750 kasus per bulan. Angka itu lebih tinggi daripada rata-rata bulanan 2025 yang sekitar 111.393 kasus per bulan.
Laporan bulanan tertinggi tercatat pada Agustus 2026 dengan 212.914 kasus. Jumlah tersebut merupakan angka bulanan terbesar sepanjang Januari–September 2026.
Kepala Dinkes Jatim, dokter Erwin Astha Triyono, menyampaikan data itu dalam keterangan yang dikutip detikcom pada Rabu (7/10/2026). Suara Surabaya kemudian memuat penjelasan lanjutan darinya pada Kamis (8/10/2026). Menurut Erwin, pemantauan Dinkes menunjukkan jumlah kasus yang dilaporkan pada 2026 naik dibanding rata-rata bulanan 2025.
Surabaya urutan pertama laporan ISPA
Dinkes Jatim juga mendata lima daerah dengan laporan kasus ISPA tertinggi pada Januari–September 2026. Urutannya adalah Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Lamongan, Kota Malang, dan Kabupaten Malang.
Sumber tidak merinci jumlah kasus per daerah, sehingga angka khusus untuk Surabaya belum diketahui. Data yang dipaparkan juga merupakan jumlah kasus yang dilaporkan, bukan hasil penelusuran penyebab di tiap wilayah.
Baca jugaBPBD Jatim: 24 Daerah Masih Kekeringan, Pemprov Pertimbangkan Operasi Modifikasi Cuaca pada Oktober
Kemarau dan faktor penularan
Erwin menyebut musim kemarau dengan curah hujan rendah sebagai salah satu faktor. Menurut dia, hujan yang minim membuat proses rain washing, yaitu pembersihan polutan dari udara oleh air hujan, berkurang.
Erwin menambahkan, cuaca panas dan kering dapat mengubah kestabilan aerosol sekaligus daya tahan lapisan mukosa di saluran napas. Kondisi itu, menurut dia, dapat menjadi salah satu potensi penularan virus penyebab infeksi saluran pernapasan.
ISPA disebabkan oleh berbagai infeksi, mulai virus, bakteri, hingga kuman lain. Penularan kerap terjadi lewat udara yang mengandung percikan (droplet) dari batuk atau bersin, atau kontak dengan permukaan yang terkontaminasi.
Gejala dan kelompok berisiko
Erwin menyebut gejala ISPA dapat berupa demam akut, batuk, sakit tenggorokan, dan pilek. Sebagian besar kasus, terutama yang disebabkan virus, dapat sembuh sendiri karena tubuh mampu melawan infeksi.
Meski demikian, menurut Erwin, ada kelompok yang memerlukan perhatian medis jika terkena ISPA, yakni balita, lansia, serta penderita komorbid.
Gejala ISPA akut umumnya reda dalam waktu kurang dari 14 hari. Erwin mengingatkan, bila keluhan makin parah, pasien sebaiknya menjalani pemeriksaan lanjutan sebab penyakit ini tidak selalu ringan.



