Penemu metode Fu Subcutaneous Needling (FSN) asal Tiongkok, Prof Fu Zhonghua, melatih 50 praktisi kesehatan Indonesia dalam workshop internasional di PrimeBiz Hotel Surabaya. Seperti dilaporkan Beritajatim, pelatihan dua hari itu berfokus pada penanganan nyeri jaringan otot.

Menurut Surya.co.id, workshop berlangsung Kamis–Jumat (1–2/10/2026). Pesertanya datang dari berbagai kota di Indonesia.

Peserta dan materi pelatihan FSN

Para peserta datang dari beragam profesi: dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi, dokter akupunktur, praktisi akupunktur, serta ahli kinesiologi. Di kelas, mereka belajar menusukkan jarum secara dangkal di lapisan bawah kulit guna meredakan gangguan muskuloskeletal.

Beritajatim menjelaskan, FSN menggerakkan jarum secara horizontal di jaringan subcutaneous tanpa menembus otot dalam. Surya.co.id mengutip Wikipedia bahwa teknik ini tidak mengikuti jalur meridian atau titik akupunktur tradisional, dan dipakai untuk nyeri otot kronis serta nyeri miofasial.

Rujukan yang sama menyebut FSN juga dikenal sebagai jarum mengambang atau floating needle. Teknik ini dikembangkan oleh Dr Zhonghua Fu sejak 1996 dan bisa membantu keluhan sistem muskuloskeletal seperti nyeri lutut atau punggung.

Pada hari pertama, peserta diperkenalkan konsep FSN, anatomi jaringan subcutaneous, dan alat instrumen. Hari kedua diisi praktik dalam kelompok kecil.

“Peserta perlu memahami bagaimana teknik diterapkan secara langsung pada kondisi klinis, termasuk bagaimana menentukan area dan teknik intervensi berdasarkan kondisi pasien,”

— Prof Fu Zhonghua, penemu metode FSN

Demonstrasi klinis dan praktik langsung

Dalam peragaan medis, tim pengajar menangani tiga kasus: cervical spondylosis, HNP lumbal, dan osteoarthritis genu. Menurut Beritajatim, skala nyeri pasien turun dari angka 10 menjadi berkisar 0 hingga 3.

Instruktur FSN asal Tiongkok, Dr Chen Bicheng, memandu sesi praktik agar peserta mendapat koreksi atas gerakan ayunan jarum. Pakar FSN Prof Yu Yanfang menyampaikan integrasi herbal Traditional Chinese Medicine (TCM) untuk menjaga fungsi limpa dan lambung pasien sebagai pelengkap terapi FSN.

“Pembelajaran FSN membutuhkan pemahaman teori sekaligus keterampilan tangan. Karena itu, praktik langsung menjadi bagian penting agar peserta dapat memahami teknik dengan lebih baik,”

— Dr Chen Bicheng, instruktur FSN asal Tiongkok

Prof Yu menilai pendekatan TCM menawarkan beragam metode terapi yang dapat saling melengkapi. Menurut dia, pemahaman atas kondisi internal pasien bisa berjalan bersama pendekatan terhadap jaringan tubuh dalam satu pembelajaran terapi yang terintegrasi.

MoU dan komunitas Myologi Indonesia

Workshop ditutup dengan penandatanganan nota kesepahaman antara FSN International Center dan FSN Indonesia. Kerja sama itu disebut memperkuat pertukaran pengetahuan medis dan pendidikan klinis berkelanjutan di Indonesia.

Dalam acara itu, Wahyudi dari FSN Indonesia mengenalkan komunitas baru, Myologi Indonesia. Komunitas ini disiapkan sebagai ruang diskusi bagi praktisi yang ingin mendalami anatomi otot dan jaringan tubuh.

“Kami berharap pembentukan Myologi Indonesia dapat menjadi wadah yang mempertemukan para praktisi untuk terus belajar mengenai otot dan memperdalam teknik FSN.”

— Wahyudi, perwakilan FSN Indonesia