Masyarakat diminta menerapkan lima langkah sederhana untuk menekan penularan Influenza A, salah satunya memakai masker di tempat ramai atau ruang tertutup. Imbauan itu disampaikan dokter spesialis mikrobiologi klinik, dr Andrew Adhytia Lieputra, Sp.MK, dalam keterangan resmi di Jakarta pada Kamis (8/10/2026), yang kemudian dikutip media pada 8–9 Oktober 2026.
Seperti dilaporkan Suara Surabaya dan ANTARA, Andrew merupakan lulusan Universitas Diponegoro dan dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Unika Atma Jaya. Imbauannya bersifat umum untuk masyarakat Indonesia; sumber tidak menyebut daerah tertentu.
Apa yang terjadi: kasus Influenza A naik pada September 2026
Berdasarkan catatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), kasus Influenza A di Indonesia meningkat pada September 2026. Kenaikan serupa terlihat pula di kawasan Asia Tenggara.
Meski begitu, surveilans sampai September 2026 menempatkan situasinya pada kategori sedang. Menurut Suara Surabaya, kenaikan itu bukan lonjakan besar dan masih sejalan dengan pola musiman yang lazim di Indonesia.
Sumber yang kami gunakan tidak memuat angka kasus Influenza A untuk Surabaya atau Jawa Timur. Untuk konteks lokal, kami sebelumnya menulis tentang laporan ISPA di Jawa Timur yang menempatkan Kota Surabaya di urutan teratas.
Baca jugaKota Surabaya Teratas Laporan ISPA di Jatim, Dinkes: Kemarau Panjang Ikut Berpengaruh
Lima langkah pencegahan penularan Influenza A
Andrew menekankan bahwa virus influenza terus beredar dan berubah, sehingga upaya pencegahan perlu dilakukan setiap tahun.
“Virus influenza terus beredar dan mengalami perubahan dari waktu ke waktu, sehingga pencegahan tetap penting dilakukan setiap tahun”
— dr. Andrew Adhytia Lieputra, Sp.MK, dokter spesialis mikrobiologi klinik
1. Jaga daya tahan tubuh
Langkah pertama ialah merawat tubuh agar sistem imun tetap berfungsi baik. Andrew menyebut empat kebiasaan: pola makan bergizi seimbang, olahraga rutin, waktu tidur cukup, dan perhatian pada kesehatan secara keseluruhan.
2. Vaksinasi influenza berkala
Suntik vaksin influenza dianjurkan rutin, biasanya sekali setahun. Kelompok yang berisiko mengalami komplikasi, misalnya anak-anak dan lansia menurut TIMES Indonesia, menjadi sasaran utama anjuran ini.
Latar belakangnya, virus influenza selalu berubah. Isi vaksin pun bisa diperbarui agar cocok dengan jenis virus yang diperkirakan beredar. Selain itu, kadar antibodi setelah divaksin dapat menyusut seiring berjalannya waktu.
3. Pakai masker saat situasi berisiko
Andrew menyarankan masker dikenakan ketika seseorang berada dalam situasi berisiko, khususnya di keramaian atau ruangan tertutup. TIMES Indonesia menambahkan, termasuk di lokasi yang sirkulasi udaranya terbatas.
“Penggunaan masker membantu mengurangi penyebaran partikel pernapasan dari orang yang sedang sakit sekaligus memberikan perlindungan tambahan bagi orang di sekitarnya”
— dr. Andrew Adhytia Lieputra, Sp.MK, dokter spesialis mikrobiologi klinik
Dengan kata lain, masker berfungsi ganda: menahan penyebaran dari orang yang sakit sekaligus melindungi orang di dekatnya. TIMES Indonesia mencatat masker bukan satu-satunya pelindung, sehingga perlu dikombinasikan dengan langkah lain.
4. Terapkan etika batuk dan bersin
Saat batuk atau bersin, jangan menangkupkan telapak tangan ke hidung dan mulut. Pakailah selembar tisu sekali pakai, lalu buang segera ke tempat sampah. Jika tidak ada tisu, bagian dalam siku atau lengan atas bisa menjadi penutup.
TIMES Indonesia mengutip Andrew bahwa telapak tangan justru dapat memudahkan virus berpindah ke berbagai permukaan.
5. Jaga kebersihan tangan
Tangan yang tercemar virus bisa menjadi jalur penularan ketika menyentuh mata, hidung, atau mulut. Karena itu, mencuci tangan memakai sabun dan air mengalir dianjurkan. Pembersih tangan berbahan alkohol dapat menjadi pengganti bila tidak ada tempat cuci tangan.
Cara menular dan gejala Influenza A
Menurut Andrew, penularan terjadi lewat partikel pernapasan yang dilepaskan penderita saat batuk, bersin, bicara, bahkan bernapas. Risikonya lebih besar bila kontak berlangsung dalam jarak dekat. Di dalam tubuh, virus menyerang sel saluran pernapasan dan memperbanyak diri.
Gejala tipe A lebih berat daripada pilek biasa. Keluhan yang lazim mencakup demam, menggigil, tenggorokan nyeri, kepala sakit, otot pegal, dan kelelahan berat. Tanda-tanda itu umumnya baru terasa satu sampai empat hari setelah virus masuk.
Kelompok berisiko dan tanda komplikasi
Banyak penderita pulih dengan baik. Namun risiko influenza berat dan komplikasi lebih tinggi pada balita di bawah lima tahun, lansia, serta ibu hamil. Hal yang sama berlaku bagi penderita diabetes, penyakit jantung, penyakit paru, atau gangguan sistem imun.
Komplikasi yang patut diwaspadai ialah pneumonia atau radang paru-paru. Selain keluhan influenza, pasien bisa tampak sangat lemas, merasakan nyeri dada, dan mengalami sesak atau kesulitan bernapas. Kesulitan makan atau minum, dehidrasi, hingga turunnya kesadaran juga termasuk tanda.
Pada lansia dan pasien dengan gangguan imun, infeksi berat belum tentu menunjukkan tanda yang khas. Karena itu, kondisi mereka perlu dicermati lebih teliti.
Bagaimana pemeriksaan Influenza A dilakukan
Andrew menyebut rapid antigen test sebagai salah satu cara memeriksa influenza. Petugas mengambil sampel dari saluran napas lewat usap hidung atau nasofaring.
Tes PCR atau metode molekuler lain juga tersedia dengan kepekaan lebih tinggi. Cara ini terutama cocok dipertimbangkan bagi pasien bergejala berat, pasien rawat inap di rumah sakit, atau kelompok yang rentan komplikasi.
Ringkasan imbauan dokter
Menurut Andrew, pencegahan bertumpu pada lima hal: menjaga imun, vaksinasi berkala, masker di situasi berisiko, etika batuk dan bersin, serta kebersihan tangan. Ia juga mengingatkan tanda-tanda komplikasi pada kelompok rentan.
Sumber tidak merinci fasilitas layanan, jadwal vaksinasi, atau data kasus di Surabaya. Informasi lokal tersebut perlu ditanyakan kepada tenaga kesehatan atau otoritas kesehatan setempat.



