Tim Penggerak (TP) PKK Kota Surabaya mendampingi ibu hamil berisiko tinggi di kota ini. Berdasarkan data Pemkot Surabaya, sebanyak 1.377 ibu hamil berisiko telah menerima pendampingan. Ketua TP PKK Surabaya Rini Indriyani menyampaikan hal itu di Surabaya, Rabu (23/9/2026), seperti dilaporkan TribunJatim dan Surya.co.id.
Pendampingan ibu hamil berisiko di Surabaya
Rini menilai pendampingan terhadap keluarga perlu diperkuat demi kesejahteraan warga. Wujud nyatanya antara lain pendampingan bagi ibu hamil dengan risiko tinggi.
Pendampingan itu dijalankan bersama sejumlah pihak, termasuk Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Kerja sama tersebut menghadirkan tambahan makanan sehat bagi ibu hamil yang memerlukan perhatian ekstra.
Yang tergolong berisiko adalah ibu dengan kondisi tertentu yang memperbesar kemungkinan komplikasi saat hamil. Contohnya usia yang terlalu muda atau terlalu tua, tekanan darah tinggi, diabetes, dan anemia.
Balita 2T ikut didampingi kader PKK
Menurut Rini, program PKK tidak berhenti pada lomba atau kegiatan seremonial. Setelah kegiatan usai, kader disebut tetap mendampingi warga sesuai persoalan yang ditemukan di lapangan.
“Ini tidak hanya sekadar lomba selesai, tetapi ada pendampingan-pendampingan yang dilakukan. Bahkan, anak-anak yang 2T juga kami dampingi sampai benar-benar menunjukkan perkembangan.”
— Rini Indriyani, Ketua TP PKK Kota Surabaya
Sebutan 2T dipakai untuk balita yang berat badannya tak naik pada dua kali penimbangan. Pendampingan bertujuan memastikan pertumbuhan anak terus terpantau dan ditangani sesuai kebutuhan.
Baca jugaDokter FK Unair Surabaya Ciptakan Dua Alat untuk Atasi Bayi Kuning di Daerah Terpencil
Program keluarga lintas usia
Selain ibu hamil dan balita, TP PKK Surabaya punya program yang menyasar keluarga dari berbagai usia. Program Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH) tercatat telah mendampingi 15.358 orang tua balita dalam hal pengasuhan dan tumbuh kembang anak.
Untuk kesehatan anak, Surya.co.id melaporkan adanya kemitraan dengan 105 dokter spesialis anak yang tergabung dalam Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Kegiatan pengabdian masyarakat itu menjangkau 1.274 balita.
Pada isu lingkungan dan ketahanan pangan, 153 RW mendapat pendampingan TP PKK untuk memanfaatkan pekarangan rumah. Sebanyak 186 RW lainnya didampingi dalam memilah sampah organik dan anorganik.
“Harapan kami, output dari lomba-lomba ini adalah bagaimana kebiasaan baik itu menjadi habit di masyarakat. Misalnya membuang dan memilah sampah, mengolah sampah organik, serta memanfaatkan pekarangan,”
— Rini Indriyani, Ketua TP PKK Kota Surabaya
Upaya menjaga keberlanjutan program
Agar program terus berjalan, menurut Surya.co.id, TP PKK Kota Surabaya meneken Surat Kesepakatan Bersama (SKB). Pihak yang terlibat adalah dunia usaha dan dunia industri (DUDI) serta SMKN.
Bagi warga, khususnya keluarga dengan ibu hamil berisiko atau balita yang berat badannya tidak naik, pendampingan kader PKK menjadi salah satu jalur perhatian di tingkat lingkungan. Sumber yang ada tidak merinci cara mendaftar atau lokasi layanan pendampingan tersebut.



