Polemik kucing berkostum yang membuka donasi di Jalan Tunjungan, Surabaya, masih bergulir. Pemilik kucing, Bimo, kembali menegaskan bantahannya atas dugaan pemberian obat tidur terhadap hewan peliharaannya lewat pemberitaan detikNews yang mengutip detikJatim, Rabu (23/9/2026). Ia memastikan kucing-kucingnya memang berkarakter tenang, bukan karena diberi obat penenang.
Bimo Ulangi Bantahan Soal Obat Tidur
Dalam keterangan yang dikutip detikNews dari detikJatim, Rabu (23/9/2026), Bimo kembali menyampaikan alasan yang sama seperti sebelumnya, yakni setiap kucing memiliki karakter berbeda. Sebagian aktif, sementara sebagian lain cenderung tenang dan mudah tertidur di kondisi apa pun, termasuk saat berada di tempat ramai seperti Tunjungan.
“Kalau lagi males, males. Dia di manapun kondisinya, apapun, seramai apapun dia akan tidur”
— Bimo, pemilik kucing
Menurut Bimo, kucing yang sudah percaya kepada pemiliknya cenderung merasa aman meski berada di lingkungan ramai, sehingga tetap bisa tertidur santai di tengah keramaian.
“Kalau kucing udah percaya sama owner-nya, dia itu merasa aman”
— Bimo, pemilik kucing
Bimo juga kembali menegaskan bahwa donasi yang diterimanya dari pengunjung bukan untuk keuntungan pribadi, melainkan dipakai kembali untuk kebutuhan kucing-kucing yang dirawatnya.
“Pokoknya uang ini tuh uangnya mereka. Kembalikan ke pakannya, bulanannya mereka, vitaminnya mereka, dokternya mereka”
— Bimo, pemilik kucing
Awal Mula Video Viral dan Kesaksian Pengunjung
Sorotan terhadap kucing berkostum itu bermula dari video yang memperlihatkan sejumlah kucing tergeletak lemas dan tertidur meski berada di tengah kerumunan pengunjung Tunjungan. Kondisi itu memunculkan dugaan pemberian obat tidur sekaligus tudingan eksploitasi hewan untuk menarik donasi.
Pemilik akun Threads @ekarahmafh, Eka, menuturkan kepada detikJatim, Minggu (20/9/2026), bahwa ia sempat melihat langsung kucing-kucing tersebut pada 8 Mei 2026 malam. Ia mendapati lima kucing dewasa dan seekor kitten yang tampak pasif dan tertidur hampir bersamaan di pinggir jalan raya yang ramai.
“Karena posisi juga di pinggir jalan raya jadi seperti tidak lazim kalau kucing-kucing yang di situ semuanya berperilaku sama. Bahkan bisa tidur dengan tenang seperti itu”
— Eka, pengunjung yang melihat langsung kucing berkostum di Tunjungan
Eka mengaku tidak mengetahui pasti penyebab perilaku kucing itu dan tidak bisa memastikan kebenaran dugaan obat tidur yang beredar. Ia juga menyaksikan mekanisme donasi di lokasi: pengunjung membayar Rp5 ribu untuk memberi makan kucing, sementara menggendong atau berfoto bersama kucing tarifnya seikhlasnya.
Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan
Sebelum bantahan terbaru Bimo, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi telah lebih dulu merespons sorotan tersebut. Kepada wartawan di Balai Kota Surabaya, Selasa (22/9/2026), Eri menegaskan pedestrian di kawasan wisata Tunjungan Romansa diperuntukkan bagi pejalan kaki, sehingga aktivitas lain seperti membawa kucing untuk membuka donasi tidak diperbolehkan tanpa izin resmi.
“Yang namanya di Jalan Tunjungan, saya sudah panggil Satpol PP, harus aman dan tidak boleh ada yang jualan atau apapun di pedestrian.”
— Eri Cahyadi, Wali Kota Surabaya
“Kecuali dia mendapatkan izin. Contoh tiba-tiba kayak kucing wingi, yo nggak boleh!”
— Eri Cahyadi, Wali Kota Surabaya
Pada kesempatan yang sama, Selasa (22/9/2026), Eri mengatakan telah meminta Satpol PP memperketat pengawasan di kawasan tersebut, tidak hanya terhadap aktivitas kucing berkostum, tetapi juga siapa pun yang berjualan atau melakukan kegiatan lain di area pedestrian Tunjungan.
“Tidak boleh ada orang jualan di sepanjang pedestrian, orang jalan biar nyaman”
— Eri Cahyadi, Wali Kota Surabaya
